Senin, 09 Maret 2009

ABSTRAK TESIS PURWADI,ME


Disparitas Pendapatan Regional, Konvergensi dan Sumber-Sumber Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah.

Tesis ini membahas disparitas pendapatan regional di Jawa Tengah, Konvergensi dan Sumber-Sumber Pertumbuhan. Untuk mengetahui tingkat disparitas pendapatan antar daerah digunakan index Theil, sedangkan untuk menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi disparitas pendapatan dan konvergensi digunakan regresi dengan data panel. Model yang digunakan selain mampu menunjukkan konvergensi, juga mampu memverifikasi sumber-sumber pertumbuhan pendapatan. Disparitas pendapatan di Jawa Tengah, baik tanpa migas maupun dengan migas, yang dihitung menurut pembagian wilayah ex karesidenan menunjukkan bahwa disparitas yang terjadi sifatnya rendah, namun dengan kecenderungan meningkat. Disparitas pendapatan tersebut lebih disebabkan oleh dsparitas pendapatan antar kabupaten/kota dalam wilayah (within region) daripada disparitas antar wilayah (between region). Apabila dihitung menurut kelompok (group) daerah berdasarkan sektor ekonomi dominan, menunjukkan bahwa besarnya disparitas pendapatan dalam group (within group) hampir sama dengan besarnya disparitas pendapatan antar group (between group), dan disparitas pendapatan antar kabupaten/kota yang paling besar terjadi pada kelompok daerah yang perekonomiannya didominasi sektor tersier. Variabel-variabel yang mempengaruhi peningkatan disparitas pendapatan antar daerah dalam wilayah (tanpa migas) adalah konsumsi listrik, dan variabel-variabel yang mempengaruhi penurunan disparitas pendapatan adalah jumlah kredit perbankan dan share industri, sedangkan variabel-variabel yang mempengaruhi peningkatan disparitas pendapatan (dengan migas) adalah jumlah penduduk, infrastruktur jalan dan konsumsi listrik, sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan disparitas pendapatan adalah human capital, belanja pembangunan, dan share industri.Hasil estimasi dengan random effect menunjukan bahwa tidak terjadi konvergensi dalam pendapatan perkapita (tanpa migas), meskipun koefesien dari pendapatan awal bertanda negatip namun tidak signifikan menjelaskan terjadinya konvergensi. Sedangkan estimasi dengan fixed effect yang mempertimbangkan kharakteristik di masing-masing daerah, menunjukkan terjadinyanya konvergensi pendapatan (dengan migas), sehingga dapat dikatakan bahwa daerah-daerah yang pada awalnya memiliki pendapatan rendah, mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan daerah-daerah yang pada awalnya memiliki pendapatan tinggi. Dengan memasukan variabel share industri, sebagai proxy dari variabel teknologi, dan diestimasi dengan random effect, menunjukkkan terjadinya konvergensi pendapatan perkapita dengan kecepatan konvergensi sebesar 1,34% per tahun (non migas) dan 1,44% (migas), sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menutup setengah dari gap pendapatan awal dengan pendapatan pada saat steady state (a half life in year) adalah 52 tahun (tanpa migas) dan 48 tahun (dengan migas). Variabel-variabel yang berpengaruh positip terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah adalah konsumsi listrik perkapita, sedangkan variabel-variabel yang berpengaruh negatip terhadap pertumbuhan ekonomi adalah inflasi dan pertumbuhan penduduk. Tesis ini menyarankan, untuk mengurangi disparitas pendapatan antar daerah, maka daerah-daerah yang memiliki pendapatan rendah harus fokus pada pengembangan kegiatan-kegiatan produktiv, dengan memprioritaskan sektor industri yang mengolah potensi lokal, sehingga memiliki dampak yang luas bagi perekonomian daerah. Kebijakan tersebut di atas harus dibarengi dengan kebijakan peningkatan alokasi anggaran untuk perbaikan infrastruktur jalan, dan investasi di dalam bidang-bidang yang meningkatkan kualitas SDM, melalui pendidikan, pelatihan dan kesehatan. Daerah harus menyusun perencanaan pembangunan yang baik, berdasarkan kebutuhan dan prioritas daerah, sehingga menghindari pemborosan anggaran yang justru akan kontraproduktiv terhadap perekonomian daerah..

Kata Kunci :

Disparitas, konvergensi, pertumbuhan

Master Ekonomi yang cumlaude neh, sekarang jadi ekonomi di wonogiri ! Sepplah

Rabu, 25 Februari 2009

ABSTRAK TESIS HENDRY,ME



Potensi Penerimaan Pajak Restoran/Rumah Makan di Kota Bukittinggi Tahun 2008
Upaya peningkatan PAD di era otonomi daerah perlu dilakukan, diantaranya dengan mengefektifkan pemungutan sumber-sumber penerimaan dari pajak daerah salah satunya adalah pajak restoran. Untuk mengetahui seberapa besar pajak restoran dapat ditingkat penerimaannya perlu dilakukan survei terhadap unit usaha restoran/rumah makan, sehingga diperoleh potensi pajak restoran yang ada di Kota Bukittinggi pada Tahun 2008. Hasil penggalian data di lapangan diperoleh potensi pajak restoran sebesar Rp.13.524.447.949,-. Besarnya kesenjangan antara potensi dengan target Tahun 2008 diakibatkan karena Dinas Pendapatan Daerah dalam penetapan besaran ketetapan pajak restoran kepada wajib pajak tidak didasarkan atas omzet yang sebenarnya.

Kata kunci:otonomi daerah, pajak daerah, potensi pajak restoran, survei
Tesisnya diterapin di daerah ya bozzz, so jadi ahli keuangan daerah yang pinter gali PAD !!

ABSTRAK TESIS IIS MINARTI,ME


Pengaruh Pertumbuhan Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Permintaan Listrik

Krisis listrik yang sedang terjadi di Indonesia disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan konsumsi listrik yang tidak diikuti dengan pertumbuhan produksi listrik. Meningkatnya pertumbuhan yang tidak seimbang ini disebabkan oleh permintaan listrik sektor industri yang terus meningkat akhir-akhir ini. Hal ini disebabkan karena sejak meningkatnya harga minyak dunia membuat sektor industri yang asalnya menggunakan listrik captive beralih menggunakan listrik PLN. Kapasitas Pembangkit PLN yang kurang dan sudah tua tidak dapat memproduksi listrik seperti yang diminta oleh sektor industri.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan listrik sektor industri di Indonesia akibat dari peningkatan PDB sektor industri, harga listrik dan jumlah pelanggan sektor industri. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui seberapa besar permintaan listrik yang akan terjadi dari periode 2008-2020. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan bentuk time series dari tahun 1975-2006. Data listrik diperoleh dari statistik energi yang dikeluarkan oleh BPS, ESDM dan PLN. Sedangkan data PDB sektor industri diperoleh dari buku statistik ekonomi yang dikeluarkan oleh BPS. Model yang digunakan dalam menganalisis penelitian ini adalah regresi log linear menggunakan metode OLS untuk mengetahui perubahan permintaan listrik dalam jangka panjang, dan menggunakan Error Corection Mechanisms untuk mengetahui pengaruh permintaan dari beberapa variabel independen terhadap variabel dependen dalam jangka pendek.

Hasil dari analisis menunjukan bahwa permintaan listrik di Indonesia dipengaruhi secara signifikan oleh PDB sektor industri, harga listrik dan pelanggan sektor industri. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa elastisitas permintaan listrik terhadap PDB sektor industri sangat elastis pada jangka panjang. Hasil proyeksi diperoleh permintaan listrik sektor industri pada tahun 2020 adalah sebesar 72.807 GWh.

Kata kunci :

Listrik, industri, elastisitas

(teh iis neh .ahli ekonomi energi maklum aje bekerja di bapeten, kok ndak neliti nuklir yach :)

Rabu, 18 Februari 2009

ABSTRAK TESIS SUKADANA SUFII, ME

Konvergensi Ekonomi Regional DiIndonesia Tahun 1985 - 2006

Tesis ini bertujuan menjawab hipotesis tentang makin melebarnya disparitas regional karena perbedaan penerapan kebijakan pembangunan dan cenderung bersifat Jawa sentris. Isu ini selalu mengemuka dalam diskusi tentang pembangunan ekonomi regional baik dalam era desentraliasasi maupun era-era sebelumnya. Tesis ini mencoba mencermati faktor-faktor yang dapat mendorong konvergensi antar propinsi selama kurun waktu 20 tahun lebih (1985-2006).

Dengan menggunakan analisis konvergensi bersyarat β berdasarkan data panel selama 1985-2006 ditemukan bahwa telah terjadi konvergensi antar propinsi di Indonesia dengan kecepatan konvergensi sebesar 2,68 persen. Dengan demikian, waktu yang diperlukan untuk mencapai setengah dari kondisi steady state (half time) selama 26 tahun. Selama periode ini andil investasi, sumbangan sektor Industri dan Pertanian memegang peran penting dalam mendorong konvergensi.

Pengamatan kecepatan konvergensi untuk rentang waktu yang lebih pendek memberikan hasil kecepatan konvergensi yang berbeda antara periode 1985-1995 dan 1995-2006 dengan kecepatan konvergensi masing-masing 2,02 persen dan 1,96 persen. Gejala deindustrialisasi yang terjadi selama 1995-2006 diduga menjadi penyebab rendahnya kecepatan konvergensi pada periode tersebut.

Perbandingan tingkat konvergensi antara masa sebelum pemberlakuan otonomi daerah (1985-2000) dan pasca otonomi (2001-2006) menghasilkan laju konvergensi sebesar 3,30 persen berbanding 1,06 persen. Kedua periode pengamatan tersebut memiliki sumber-sumber pertumbuhan pendapatan perkapita yang berbeda.

keyword : konvergensi, disparitas,pertumbuhan pendapatan perkapita.


(abstrak tesis master ekonomi dari BPS Jogja Mr. Sukadana Sufii, ME)


Minggu, 15 Februari 2009

ABSTRAK TESIS SUMANTO,ME


Estimasi Penghitungan Incremental Capital Output Ratio (Icor) Dan Incremental Labour Output Ratio (Ilor) Di Kabupaten Sragen


Penelitian ini tentang dampak investasi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengetahui dampak investasi terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sragen; (2) mengetahui dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Sragen.

Penelitian dilakukan di Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Periode waktu pengamatan adalah tahun 2001-2007. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis ICOR (Incremental Capital Output Ratio) dan ILOR (Incremental Labour Output Ratio) serta analisis korelasi.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Nilai rata-rata ICOR di Kabupaten Sragen pada periode tahun 2001 – 2007 adalah sebesar 6,56. Investasi berdampak positip terhadap pertumbuhan ekonomi di kabupaten Sragen. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis korelasi antara pertumbuhan Investasi dengan pertumbuhan PDRB didapatkan nilai sebesar 0,771, nilai korelasi ini signifikan secara statistik. Kenaikan nilai realisasi investasi di Kabupaten Sragen akan diikuti dengan terjadinya kenaikan pertumbuhan PDRB di Kabupaten Sragen (ceteris paribus); (2) Nilai ILOR Kabupaten Sragen 2001-2007 adalah sebesar 0,1384. Investasi juga berdampak positip terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Sragen. Hal tersebut ditunjukkan hasil korelasi antara pertumbuhan investasi dengan penyerapan tenaga kerja diperoleh nilai sebesar 0,940 yang signifikan secara statistik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa di Kabupaten Sragen belum terjadi pergeseran penyerapan tenaga kerja dari sektor yang padat karya yang cenderung membutuhkan tenaga kerja yang banyak kepada sektor-sektor yang lebih padat modal yang cenderung membutuhkan tenaga kerja yang lebih sedikit.

Proyeksi kebutuhan investasi target I dengan pertumbuhan PDRB tahun 2008-2011 masing-masing sebesar 5,6%, 5,9%, 6,2% dan 6,5 maka dibutuhkan investasi sebesar Rp 1.003.042 juta, Rp 1.121.239juta, Rp 1.253.659juta, dan Rp 1.399.751juta. Pada proyeksi kebutuhan investasi target II dengan pertumbuhan PDRB masing-masing sebesar 5,8%, 6,1%, 6,4% dan 6,7% maka dibutuhkan investasi sebesar Rp 1.040.942 juta, Rp 1.161.566 juta, Rp 1.296.688 juta dan Rp 1.445.706 juta.

Proyeksi kebutuhan tenaga kerja target I dengan pertumbuhan PDRB tahun 2008-2011 masing-masing sebesar 5,6%, 5,9%, 6,2% dan 6,5 maka dibutuhkan tenaga kerja tambahan masing-masing sebanyak 21.183, 23.679, 26.475 dan 29.560 orang. Proyeksi kebutuhan tenaga kerja target II dengan pertumbuhan PDRB tahun 2008-2011 masing-masing sebesar 5,8%, 6,1%, 6,4% dan 6,7% maka dibutuhkan tambahan tenaga kerja masing-masing sebanyak 21.983, 24.530, 27.384 dan 30.531 orang.

Kata kunci:

Incremental Capital Output Ratio (ICOR), Incremental Labour Output Ratio (ILOR), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), investasi, pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, Kabupaten Sragen.

(Abstrak tesisnya Bos Sumanto,ME paker analisis investrasi )

Kamis, 12 Februari 2009

ABSTRAK TESIS NURUDIN ARANIRI,ME


Strategi Kebijakan Pemberdayaan Petani ternak di Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Tingkat kemiskinan di Kabupaten Gunungkidul setiap tahun selalu berada di atas tingkat kemiskinan nasional dan juga di atas kabupaten/kota lain se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berbagai program pengentasan kemiskinan selama ini telah banyak dilakukan oleh pemerintah daerah, tetapi tingkat kemiskinan tetap tinggi bahkan cenderung meningkat.
Usaha peternakan yang dilakukan bersama dengan usaha pertanian tanaman pangan adalah usaha yang dilakukan oleh sebagian besar keluarga di Kabupaten Gunungkidul. Pengurangan tingkat kemiskinan secara permanen perlu dilakukan dengan mencari akar permasalahan yang sebenarnya dan dilakukan pemberdayaan petani ternak dengan berbagai langkah dan strategi yang tepat.
Penelitian ini menggunakan metode AHP dengan penggabungan model proyeksi (forward process) dan perencanaan (backward process) agar didapatkan hasil perencanaan yang efektif. Karena keterbatasan waktu dan biaya maka forward process dan backward process dilakukan bersamaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam perencanaan ke depan digunakan strategi Peningkatan SDM (0,737) sebagai strategi utama dan Peningkatan skala usaha (0,263) sebagai strategi kedua. Dalam pelaksanaan strategi pemberdayaan, beberapa kendala yang harus dihadapi adalah: Tingkat pendidikan petani ternak yang rendah (0,369); Keuangan daerah terbatas (0,255); Kepemilikan aset yang rendah (0,225); dan Kondisi geografi yang kering dan tandus (0,151). Pelaku yang berperan adalah Pemda (0,408); Lembaga keuangan (0,295); Swasta (0,163); dan Petani ternak (0,134). Prioritas kebijakan yang dijalankan adalah: Peningkatan pendampingan kepada petani ternak (0,260); Fasilitasi teknologi (0,173); Mempermudah akses pinjaman permodalan (0,171); Meningkatkan penerapan pola kemitraan usaha (0,176); Memberikan bantuan/subsidi kepada petani ternak (0,111); dan Pembangunan sarana-prasarana peternakan (0,109).

Kata kunci : Kemiskinan, Petani ternak, Pemberdayaan, AHP
(merupakan abstrak tesis bos nurudin araniri,ME ... master pemberdayaan masyarakat miskin)

Minggu, 08 Februari 2009

KEGEMBIRAAN ITU TELAH DATANG !!!

Mengapa harus bahagia dan gembira ?


Yups !! banyak hal yang membuat seseorang menjadi senang, gembira dan bahagia karena apa yang di cita dan cintakan telah diraih. Begitu juga kami, Karyasiswa Bappenas yang belajar di Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (MPKP FEUI) angkatan XVII PS (baca: Angkatan Tuju Belas Pagi Salemba)

Berpose bersama di depan danau UI


Banyak kenangan yang melekat di hati, suka dan duka menjadi nada indah mengiringi perjalanan kami mengarungi samudra keilmuan di MPKP FEUI.

Walaupun menurut kang asep, sekolah adalah candu (menyitir pemikiran gramsci) namun mau tidak mau tanggung jawab menyelesaikan studi harus tetap di pikul dan dibuktikan bahwa kami bisa menyelesaikan studi walau harus jungkir balik dan “berdarah –darah” he..he…


Foto bareng dengan Bapak Raksaka Mahi dan Ibu Hera

Dosen – dosen MPKP memang yahuud, pinter – pinter, disiplin dan tentunya… kasih nilainya mahal n no kompromi, tapi tidak menyurutkan kami untuk bisa memperoleh nilai A. Alhasil akhirnya pak purwadi memperoleh gelar cumlaude, mbak suryani “hampir” cumlaude dan yang laen ngikut dibelakangnya … dapat nilai 3, … dah mayan , ada yang sangat memuaskan, memuaskan dan khusus pak nurudin katanya predikatnya Pemuas he…he…

Action Neh ...Ntar Jadi bintang Iklan Pasta Gigi :)


Mudah – mudahan silaturahmi diantara kami tetap terjalin. Sukses selalu untuk semuanya

Bravo MPKP17 . Never ending Spirit lah ...